Metrokitanews, Jakarta, 2 Juli 2026 – Praktisi hukum Fredi Moses Ulemlem, S.H., M.H., melontarkan sebuah pernyataan filosofis yang memantik perhatian publik. Menurutnya, cara seseorang memahami sebuah persoalan akan menentukan kualitas kesimpulan yang dihasilkan.
“Orang pintar mencari data, orang bodoh mencari pola,” ujar Fredi dalam keterangannya.
Pernyataan tersebut, menurut Fredi, bukan dimaksudkan untuk merendahkan pihak tertentu, melainkan sebagai kritik terhadap fenomena yang semakin sering terjadi dalam ruang publik, khususnya dalam perdebatan, diskusi, maupun penyebaran informasi di era digital.
Fredi menjelaskan bahwa dalam ilmu pengetahuan, dunia hukum, bisnis, maupun kebijakan publik, setiap keputusan idealnya dibangun berdasarkan data dan fakta yang dapat diverifikasi.
Menurutnya, orang yang berpikir kritis akan terlebih dahulu mengumpulkan informasi, memeriksa bukti, lalu menarik kesimpulan secara objektif.
“Orang yang mengedepankan data tidak akan terburu-buru mengambil kesimpulan. Mereka memvalidasi setiap informasi melalui bukti yang dapat dipertanggungjawabkan, bukan berdasarkan asumsi, emosi, atau dugaan semata,” ujarnya.
Ia menilai pendekatan seperti itu sangat penting, terutama dalam menyikapi isu-isu yang berkembang di tengah masyarakat.
Fredi juga menyoroti kualitas perdebatan publik yang belakangan dinilainya semakin jauh dari substansi persoalan.
Menurutnya, tidak sedikit diskusi yang berubah menjadi ajang saling menyerang secara personal dibanding membahas argumentasi berdasarkan fakta.
“Kita sering menyaksikan perdebatan yang tidak lagi menarik karena diwarnai saling mencaci, menyerang pribadi, bahkan ada yang bersikap arogan hanya untuk menutupi kelemahan argumennya. Ketika seseorang tidak mampu membantah data lawan debat, yang muncul justru emosi, bukan argumentasi,” katanya.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar lebih waspada terhadap berbagai bentuk kekeliruan berpikir (logical fallacy) yang kerap muncul dalam diskusi publik sehingga dapat menyesatkan cara pandang masyarakat.
Mencari Pola Belum Tentu Salah
Meski demikian, Fredi menegaskan bahwa pernyataannya tidak dimaksudkan untuk menyimpulkan bahwa mencari pola selalu merupakan tindakan yang keliru.
Menurutnya, terdapat perbedaan antara mencari pola berdasarkan data dengan memaksakan pola untuk membenarkan kesimpulan yang telah diyakini sebelumnya.
Ia menjelaskan bahwa dalam psikologi dikenal istilah apophenia, yaitu kecenderungan seseorang melihat hubungan atau pola pada peristiwa-peristiwa yang sebenarnya tidak memiliki keterkaitan.
“Kadang seseorang sudah memiliki kesimpulan lebih dahulu, kemudian mencari-cari pola atau potongan informasi agar terlihat sesuai dengan keyakinannya. Cara berpikir seperti ini berpotensi melahirkan asumsi yang tidak didukung fakta,” jelasnya.
Ilmuwan Justru Ahli Mencari Pola
Di sisi lain, Fredi mengakui bahwa kemampuan mengenali pola juga merupakan bagian penting dari kecerdasan apabila didasarkan pada data yang valid.
Menurutnya, ilmuwan data, matematikawan, peneliti, maupun penyidik dalam proses investigasi justru bekerja dengan mencari pola dari kumpulan data yang telah diverifikasi.
“Perbedaannya terletak pada prosesnya. Mereka tidak memulai dari kesimpulan, melainkan dari data. Setelah data terkumpul, barulah pola dianalisis untuk memperoleh kesimpulan yang objektif,” ujarnya.
Budaya Berpikir Kritis Perlu Diperkuat
Fredi berharap masyarakat semakin membiasakan diri untuk berpikir kritis, mengedepankan fakta, serta tidak mudah percaya pada narasi yang belum didukung bukti.
“Data melahirkan pengetahuan. Pengetahuan melahirkan kebijaksanaan. Karena itu, jangan membangun kesimpulan hanya dari asumsi atau potongan informasi. Mulailah dari data, baru kemudian membaca pola secara objektif,” pungkasnya.
Menurutnya, di tengah derasnya arus informasi saat ini, kemampuan membedakan antara fakta, opini, dan asumsi menjadi salah satu modal penting dalam menjaga kualitas demokrasi serta kehidupan bermasyarakat.
Metrokitanews | Red
