Metrokitanews, Jakarta, 21 Juni 2026 – Praktisi hukum Fredi Moses Ulemlem mengecam keras berbagai narasi yang berupaya mengaitkan persoalan yang tengah dihadapi mantan Ketua BEM berinisial Tyo dengan Jenderal TNI (Purn.) Andika Perkasa.
Menurut Fredi, upaya menghubung-hubungkan persoalan tersebut dengan sosok Jenderal Andika Perkasa merupakan tindakan yang tidak berdasar dan berpotensi menyesatkan opini publik.
Ia menilai pihak-pihak yang membangun narasi tersebut gagal melihat substansi persoalan secara objektif dan justru mencoba menyeret nama tokoh yang tidak memiliki keterkaitan langsung dengan permasalahan yang sedang berkembang.
“Jangan merusak reputasi Jenderal Andika Perkasa dengan tudingan yang tidak berdasar. Beliau memiliki rekam jejak, integritas, dan prestasi yang telah diketahui publik selama menjalankan tugas sebagai prajurit maupun saat memimpin institusi TNI,” ujar Fredi dalam keterangannya.
Fredi menegaskan bahwa selama ini masyarakat dapat menilai sendiri kiprah dan kontribusi Jenderal Andika Perkasa dalam berbagai posisi strategis yang pernah diembannya. Karena itu, menurutnya, tidak tepat apabila nama mantan Panglima TNI tersebut dikaitkan dengan persoalan yang sama sekali berada di luar tanggung jawabnya.
Lebih lanjut, Fredi mengingatkan agar perbedaan pandangan atau dinamika yang berkembang di tengah masyarakat tidak dijadikan alasan untuk membangun narasi yang dapat merugikan pihak lain.
“Publik harus disajikan fakta yang utuh, bukan asumsi atau spekulasi yang justru dapat menimbulkan kesalahpahaman. Jangan sampai ada pihak yang sengaja membangun opini tanpa dasar yang jelas,” tegasnya.
Selain nama Jenderal Andika Perkasa, Fredi juga menyoroti adanya upaya sebagian pihak yang mengaitkan persoalan tersebut dengan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI Perjuangan).
Menurutnya, pengaitan terhadap institusi maupun tokoh tertentu tanpa dasar fakta yang kuat hanya akan memperkeruh suasana dan mengaburkan pokok persoalan yang sebenarnya.
“Persoalan hukum atau persoalan individu harus dilihat secara proporsional. Jangan kemudian menyeret pihak lain yang tidak memiliki hubungan langsung dengan persoalan tersebut,” katanya.
Fredi berharap seluruh pihak dapat mengedepankan prinsip kehati-hatian dalam menyampaikan informasi kepada publik serta menghindari narasi yang berpotensi menimbulkan fitnah, stigma, maupun kesimpulan yang prematur.
Ia juga mengajak masyarakat untuk lebih kritis dalam menerima berbagai informasi yang beredar, terutama di media sosial, dengan selalu mengedepankan verifikasi dan fakta yang dapat dipertanggungjawabkan.
“Jangan bermain dengan opini yang tidak berdasar. Masyarakat berhak mendapatkan informasi yang benar, objektif, dan dapat dipertanggungjawabkan,” pungkasnya.
Metrokitanews | Red
