Kabupaten Tangerang, Metrokitanews, 20 desember 2025 — Kemajuan pembangunan kawasan PIK 2 kini justru memunculkan ironi yang menyakitkan. Di balik megahnya infrastruktur dan kawasan elit, wajah ketimpangan sosial tampak semakin mencolok. Jalan yang sebelumnya menjadi akses vital masyarakat untuk beraktivitas sehari-hari, kini ditutup dan dipersempit, bahkan tidak lagi layak dilalui pengendara motor.
Yang terjadi bukan sekadar pembangunan, melainkan pemisahan kelas secara nyata. Akses yang dahulu digunakan rakyat kecil, kini seolah disingkirkan demi kepentingan segelintir kelompok. Jalan publik berubah fungsi, dari ruang bersama menjadi jalur eksklusif yang “tidak ramah” bagi masyarakat sekitar.
Kemajuan memang tidak bisa ditahan. Pembangunan adalah keniscayaan. Namun yang dipertanyakan publik adalah: mengapa kemajuan itu harus dibayar dengan hilangnya hak dasar masyarakat? Mengapa pembangunan justru melahirkan kasta sosial di antara sesama rakyat Indonesia?
Warga sekitar mengeluhkan akses yang semakin sulit. Jalur yang dulu aman dan layak kini sengaja dibuat berputar, sempit, rusak, bahkan berbahaya. Motor harus melintas di jalan alternatif yang tidak manusiawi, sementara di sisi lain, jalan lebar dan mulus hanya bisa dinikmati kawasan tertentu.Apakah pembangunan PIK 2 masih berpihak pada kepentingan umum, atau telah berubah menjadi simbol segregasi sosial?
Jika jalan adalah urat nadi kehidupan masyarakat, maka penutupan dan pengalihan akses tanpa solusi layak sama saja dengan mematikan denyut ekonomi rakyat kecil. Buruh, pedagang, nelayan, dan pekerja harian menjadi pihak yang paling terdampak, namun paling jarang didengar suaranya.
Negara seharusnya hadir untuk memastikan pembangunan tidak menciptakan jurang sosial. Pembangunan tanpa keadilan hanyalah kemewahan yang dibangun di atas penderitaan. Jika kondisi ini terus dibiarkan, bukan tidak mungkin rasa keadilan publik akan terkikis, digantikan oleh kemarahan yang terpendam.
Kemajuan boleh terjadi. Investasi boleh masuk. Namun ketika jalan rakyat ditutup dan kasta sosial terbentuk secara kasat mata, maka yang dipertaruhkan bukan sekadar infrastruktur, melainkan nilai kemanusiaan dan keadilan sosial.
metrokitanews akan terus mengawal persoalan ini, menggali suara warga, menelusuri kebijakan, dan memastikan pembangunan tidak berjalan dengan mengorbankan hak dasar masyarakat.
Metrokitanews | Darma
